5 Alasan Mengapa MacBook Neo Bukan Sekadar MacBook Biasa

Trendtech, Jakarta – Apple baru saja meluncurkan MacBook Neo, laptop termurah mereka yang dibanderol hanya $500. Kehadiran perangkat ini menjadi strategi Apple untuk merangkul pengguna yang selama ini setia pada Chromebook atau laptop Windows murah-mid range.
Sekilas, MacBook Neo tampil begitu memikat. Dengan bodi aluminium, bobot super ringan 1,23 kg, dan pilihan empat warna cerah, laptop ini jelas dirancang untuk menarik perhatian. Spesifikasinya juga terdengar menggiurkan: layar Liquid Retina 13 inci, speaker ganda dengan Dolby Atmos, webcam 1080p, serta baterai tahan hingga 16 jam.
Namun, di balik warna-warni ceria dan harga ramah kantong, ada sederet kompromi yang perlu Anda pahami. Apple memang sengaja memangkas beberapa fitur untuk mencapai titik harga tersebut.
Sebelum Anda memutuskan membeli, mari kita bedah lima keterbatasan MacBook Neo yang wajib diketahui.
Baca juga: Lupakan Laptop Berat! TECNO MEGABOOK T14 Air Hadir dengan Bobot 999 Gram
1. Bukan Chip Laptop “Sungguhan”
Hal pertama yang mencolok dari MacBook Neo ada pada dapur pacunya. Alih-alih menggunakan chip seri M seperti MacBook Air atau Pro, Apple justru membenamkan A18 Pro—chip yang sama dengan iPhone 16 Pro.
Keputusan ini cukup mengejutkan. Chip seri A memang powerful dan efisien, tapi ia dirancang untuk iPhone dan iPad, bukan laptop dengan beban kerja lebih berat. Ruang termal dan ekspektasi performanya jelas berbeda dengan prosesor seri M.
Yang lebih menarik, versi chip di MacBook Neo ternyata “dipotong” sedikit. Jika versi iPhone punya CPU 6-core dan GPU 6-core, MacBook Neo hanya dibekali GPU 5-core. Untuk browsing, ngetik dokumen, atau streaming, performanya pasti cukup. Tapi untuk editing video atau multitasking berat, Neo kemungkinan akan tertinggal dari MacBook Air biasa. Apple juga menggunakan desain tanpa kipas (fanless), jadi laptop ini benar-benar senyap—tapi konsekuensinya, performa bisa turun saat digunakan untuk pekerjaan berat dalam waktu lama.
2. RAM Cuma 8GB dan Bandwidth Lebih Lambat
Ini mungkin jadi “luka” terbesar MacBook Neo. Laptop ini cuma dibekali RAM 8GB, dan celakanya, tidak bisa di-upgrade. Sekali beli, Anda terjebak dengan konfigurasi itu selamanya.
Padahal, Apple sekarang mulai membenamkan RAM 16GB di jajaran Mac terbaru mereka, termasuk MacBook Air. Di era di mana browser doyan “makan” memori dan orang makin sering multitasking, 8GB terasa sangat pas-pasan.
Apalagi, Apple menggunakan arsitektur memori terpadu (Unified Memory) di mana CPU dan GPU berbagi memori yang sama. Artinya, saat RAM habis, semua komponen terdampak. Buka banyak tab Chrome sambil video call dan edit dokumen? Bisa-bisa laptop mulai “ngos-ngosan”.
Belum lagi bandwidth memorinya cuma 60GB/s—kurang dari setengah yang ditawarkan MacBook Air. Dampaknya? Transfer data antar komponen jadi lebih lambat, dan performa grafis ikut terbatas.
3. Layar “Liquid Retina” dengan Banyak Potongan
Apple tetap menyebut layar MacBook Neo sebagai Liquid Retina. Resolusinya 2408 × 1506 dengan kecerahan 500 nits—sama seperti MacBook Air. Tapi jangan keburu senang.
Pertama, layar ini cuma mendukung gamut warna sRGB, bukan P3 yang lebih luas seperti di MacBook Air. Buat editor foto atau video, ini perbedaan besar. Warna yang tampil di layar bisa jadi tidak seakurat yang seharusnya.
Kedua, tidak ada True Tone. Fitur andalan Apple yang menyesuaikan suhu warna layar dengan cahaya sekitar ini absen total. Lebih parahnya lagi, MacBook Neo bahkan tidak punya sensor cahaya sekitar. Layar tidak akan meredup atau terang secara otomatis—Anda harus menyesuaikan kecerahan secara manual. Di tahun 2024, ini terasa seperti kemunduran besar.
4. Port USB-C Lambat dan Tanpa MagSafe
Bicara port, MacBook Neo cuma punya dua port USB-C di sisi kiri. Satu port mendukung kecepatan USB 3 (10Gb/s), satunya lagi cuma USB 2 (480Mb/s). Ya, Anda tidak salah baca: di era USB4 dan Thunderbolt, Apple masih menyelipkan port USB 2 di laptop baru.
Yang lebih disayangkan, tidak ada port pengisian daya MagSafe. Padahal MagSafe jadi salah satu fitur favorit pengguna Mac karena mudah lepas saat tersandung kabel, mencegah laptop jatuh. Tanpa MagSafe, kedua port USB-C harus berbagi tugas: satu untuk charge, satu untuk aksesori. Kalau Anda butuh charge sambil transfer data ke dua perangkat? Siap-siap repot.
5. Keyboard Tanpa Lampu Latar dan Trackpad Biasa Saja
Kompromi paling terasa mungkin ada di bagian keyboard dan trackpad. Keyboard MacBook Neo tidak memiliki lampu latar. Fitur yang sudah jadi standar di laptop mana pun, bahkan Chromebook sekalipun, justru dihilangkan. Mengetik di ruangan gelap? Siap-siap sambil senter.
Trackpad-nya juga bukan model Force Touch seperti MacBook lain, melainkan trackpad fisik biasa. Artinya, tidak ada klik paksa (force click), tidak ada sensitivitas tekanan untuk menggambar, dan rasanya pasti berbeda dari pengalaman MacBook pada umumnya.
Bahkan Touch ID bersifat opsional. Model dasar 256GB tidak punya sensor sidik jari sama sekali. Jika ingin Touch ID, Anda harus memilih versi 512GB dengan harga lebih mahal. Bayangkan: laptop Apple di era modern tanpa sensor sidik jari untuk unlock dan autentikasi.
Baca juga: HP Tunjukkan Masa Depan Dunia Gaming Lewat Ekosistem HyperX dan OMEN
Kesimpulan: Siapa yang Cocok Membeli MacBook Neo?
MacBook Neo jelas bukan untuk semua orang. Laptop ini ditujukan bagi pengguna dengan kebutuhan sangat dasar: pelajar yang cuma butuh ngetik, browsing, dan nonton YouTube, atau mereka yang selama ini pakai Chromebook dan ingin “merasakan” ekosistem Apple dengan harga termurah.
Tapi bagi profesional, kreator konten, atau pengguna yang biasa multitasking berat, kompromi di atas bisa jadi deal breaker. Performa chip iPhone, RAM terbatas, layar tanpa True Tone, hingga keyboard tanpa lampu latar—semuanya mengingatkan bahwa Anda benar-benar membeli “MacBook versi hemat” dengan segala keterbatasannya.
Sebelum memutuskan membeli, tanyakan pada diri sendiri: apakah Anda bisa hidup tanpa fitur-fitur dasar yang sudah jadi standar di laptop modern? Jika iya, MacBook Neo bisa jadi pintu masuk murah ke ekosistem Apple. Tapi jika tidak, mungkin lebih baik menabung sedikit lebih lama untuk MacBook Air yang lebih “fair” dalam menawarkan pengalaman Mac sesungguhnya.

