Reformasi Regulasi Mendesak: Bisakah Indonesia Selamatkan Tulang Punggung Digitalnya?

News|January 30, 2026|
Reformasi Regulasi Mendesak: Bisakah Indonesia Selamatkan Tulang Punggung Digitalnya?

Trendtech, Jakarta – Di balik gemerlap pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, ada denyut nadi yang mulai melemah: industri telekomunikasi. Sebagai tulang punggung yang menghubungkan seluruh nusantara, industri ini justru tengah berjuang napas. Inilah kegelisahan utama yang mengemuka dalam Indonesia Digital Outlook 2026, sebuah forum terkemuka yang digelar oleh TEKNOBUZZ ID dan para mitra.

Acara bertema “From Policy to Practice: Shaping Indonesia’s Digital Future” ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ini adalah ruang di mana regulator, pelaku industri, dan pengamat duduk bersama, dengan satu keprihatinan yang sama: bagaimana menyelamatkan masa depan telekomunikasi Indonesia agar transformasi digital kita tidak sekadar mimpi di siang bolong.

Baca juga: ITSEC Asia & Infinix Hadirkan Perlindungan Siber AI di Smartphone

Tulang Punggung yang Terengah-engah

Bayangkan Anda diminta terus berlari kencang, sambil membawa beban yang semakin berat. Itulah gambaran yang disampaikan Indra Khairuddin, Ketua Penyelenggara Indonesia Digital Outlook 2026. “Industri telekomunikasi kita seolah sesak napas,” ujarnya dengan nada prihatin di Habitate Jakarta.

Ia menyoroti kondisi yang tidak ideal: margin usaha yang terus tergerus, beban regulasi yang bertumpuk, dan persaingan global yang tidak seimbang. Padahal, tuntutan untuk membangun infrastruktur digital justru semakin mendesak. “Kita tidak lagi butuh kebijakan yang indah di atas kertas. Yang kita butuhkan adalah regulasi yang jadi insentif, bukan beban,” tegas Indra. Seruan ini jelas: saatnya kebijakan turun ke bumi dan merasakan denyut industri.

Paradoks Pahit: Konsumsi Tinggi, Inovasi Rendah

Diskusi semakin menarik ketika Dyah Ayu dari CELIOS membeberkan sebuah paradoks. Di satu sisi, Indonesia adalah raksasa ekonomi digital ASEAN dengan nilai transaksi yang melonjak. Namun di sisi lain, kita seperti terjebak dalam stagnasi inovasi. “Peringkat kita dalam Global Innovation Index masih di angka 55,” ungkapnya.

Akar masalahnya, menurut Dyah, ada pada fondasi yang belum kokoh. Investasi pendidikan dan anggaran riset yang minim, hanya 0.28% dari PDB, membuat pembicaraan tentang AI atau Smart City terasa hampa. “Semua akan kehilangan relevansi jika konektivitas dan kualitas SDM digital kita lemah,” tambahnya. Ini tamparan yang mengingatkan kita, bahwa gedung pencakar langit digital tak mungkin berdiri di atas fondasi yang rapuh.

Tahun 2026: Titik Krusial bagi Masa Depan Telekomunikasi Indonesia

Teguh Prasetya dari MASTEL memberikan penekanan pada momentum kritis tahun 2026. Tahun ini, layanan 5G FWA mulai menjangkau rumah-rumah dan persaingan satelit LEO memanas. Namun, semua kemajuan teknologi itu bisa berhenti jika industri telekomunikasinya sendiri sakit.

“Kesehatan industri telekomunikasi adalah prasyarat mutlak,” tegas Teguh. Ia mengingatkan, jika beban biaya frekuensi dan regulasi yang kaku tidak segera dievaluasi, impian Indonesia Digital 2045 bisa jadi hanya angan-angan. “Industri butuh ruang bernapas untuk berinvestasi di infrastruktur masa depan,” serunya. Pernyataan ini adalah pengingat keras: kita tidak bisa memetik buah dari pohon yang tidak kita rawat.

Jalan Tengah Pemerintah: Regulasi yang Adaptif

Menyikapi keluhan dari industri, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (KOMDIGI) menyatakan kesiapannya untuk beradaptasi. Sonny Hendra Sudaryana menjelaskan upaya pemerintah dalam membangun ekosistem digital berdaulat melalui pendekatan 6C Framework, yang mencakup Connectivity, Capital, hingga Catalysis.

“Kebijakan kami dirancang bukan hanya untuk mengatur, tapi menjadi akselerator,” jelas Sonny. Ia juga menekankan fondasi baru ekonomi digital: kepercayaan. Ini sinyal positif, bahwa dialog antara regulator dan industri mulai mencari titik temu.\

Konektivitas dan Data Center: Fondasi yang Harus Tetap Kokoh

Di tengah tekanan, peran operator telekomunikasi dan data center justru semakin vital. Merza Fachys dari ATSI menegaskan, “Tanpa konektivitas, seluruh ekosistem digital tidak akan berjalan.” Ia menyoroti tekad operator untuk terus berinvestasi meski pendapatan tertekan.

Senada dengan itu, Hendra Suryakusuma dari IDPRO menempatkan data center sebagai pilar utama. Dengan proyeksi ekonomi digital Indonesia yang mencapai US$350 miliar pada 2030, pusat data adalah jantung dari seluruh ekosistem tersebut. “Transformasi digital kini adalah keharusan, bukan pilihan,” pungkasnya.

Baca juga: Telkomsigma dan Google Cloud Indonesia Perkuat Layanan Cloud dengan AI Berbasis Data

Lalu, Apa Langkah Selanjutnya?

Indonesia Digital Outlook 2026 telah membunyikan alarm. Masa depan telekomunikasi Indonesia berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, tuntutan transformasi digital semakin mendesak. Di sisi lain, industri penopangnya kelelahan.

Reformasi regulasi yang adaptif, kolaborasi erat antara pemerintah dan industri, serta fokus pada penguatan fondasi seperti konektivitas dan SDM, bukan lagi opsi. Itu adalah kebutuhan mendesak. Agar mimpi Indonesia Digital 2045 bukan sekadar angka dan proyeksi, tetapi realitas yang bisa dinikmati oleh seluruh anak bangsa. Saatnya kebijakan tidak hanya menuntut industri untuk berlari, tetapi juga memastikan lintasannya bebas dari rintangan yang menghambat.

By Published On: January 30, 2026Categories: NewsTags: