AI di Smartphone: Inovasi Nyata atau Sekadar Gimmick Marketing?

Trendtech, Jakarta – Kalau lo perhatiin tren HP zaman sekarang, ada satu istilah yang bener-bener gak bisa absen dari materi promosi: AI di smartphone. Dari HP kelas sultan sampai yang ramah kantong, semua brand mendadak ikutan perang label kecerdasan buatan. Tapi jujur aja nih, sebagai user, lo pernah gak sih ngerasa kalau fitur AI itu sering kali cuma taktik marketing alias gimmick biar jualan makin laku?
Sikap skeptis kayak gini wajar banget muncul. Di tengah gempuran istilah teknologi yang makin bikin pusing, kebutuhan asli kita tuh sebenernya simpel banget: punya HP yang performanya kencang, baterai awet, dan punya fitur yang beneran nolongin hidup sehari-hari. Bukan fitur canggih yang cuma dipamerin sekali pas unboxing, terus abis itu dilupain gitu aja.
Bukan Soal Label, Tapi Manfaat Nyata
Nanggepin fenomena ini, Sergio Ticoalu selaku Southeast Asia Marketing Director Infinix angkat bicara. Menurutnya, perkembangan AI di smartphone harusnya gak cuma fokus pamer kecanggihan di atas kertas, tapi gimana teknologi itu bisa kasih experience yang beneran relevan buat penggunanya.
Baca juga: Bukan Cuma Fiksi! Nvidia Gandeng Unitree Racik Robot AI Humanoid Pertama untuk Peneliti
“User sebenernya gak terlalu peduli apakah sebuah fitur itu pakai AI atau enggak. Yang paling penting adalah apakah teknologi itu bisa ngebantu dan mempermudah kehidupan sehari-hari mereka secara nyata,” ujar Sergio.
Pendekatan yang user-centric inilah yang sekarang mulai jadi kiblat baru industri mobile, termasuk Infinix lewat lini terbaru mereka, NOTE 60 Series. Fokus mereka digeser: bukan lagi sekadar balapan spek dewa, tapi mastiin performa HP tetep stabil, responsif, dan seamless pas lo pakai buat daily drive.
Otak HP Harus Siap Kerja Keras
Tapi biar fitur AI di smartphone gak lemot, peran hardware alias chipset itu krusial banget. Teknologi AI modern sekarang butuh daya komputasi yang masif supaya bisa ngeproses data secara real-time langsung di dalam perangkat, atau yang biasa disebut sebagai on-device AI.
Robiat Fahlevie, Marketing Manager Qualcomm Indonesia, ngejelasin kalau performa chipset itu ibarat pondasi rumah. Tanpa chipset yang kuat, fitur AI yang keren pun bakal terasa ampas dan bikin HP lemot.
“AI itu butuh processing power yang besar. Karena itu, performa chipset jadi pondasi utama agar fitur AI bisa berjalan optimal tanpa bikin baterai boros atau perangkat jadi gak responsif,” kata Robiat.
Nah, buat ngejawab tantangan ini, Infinix NOTE 60 Pro dipersenjatai dengan Snapdragon 7s Gen 4. Chipset ini dirancang buat nemuin titik keseimbangan yang pas antara performa buas, efisiensi daya yang irit, dan kemampuan AI yang beneran kepakai buat aktivitas harian lo.
Sistem Operasi yang Makin Paham Karakter Lo
Evolusi AI di smartphone gak cuma mandek di sektor hardware aja, tapi juga ngerembet ke sistem operasi (OS) yang makin personal. OS zaman sekarang dituntut buat bisa adaptasi sama kebiasaan unik masing-masing penggunanya.
Axellio Vincent, Product Manager OS, negesin kalau esensi AI itu bukan cuma tempelan logo “AI-powered” di bodi HP, tapi seberapa pintar sistem itu memahami konteks kebutuhan lo secara natural.
“AI itu harusnya terasa natural. Bukan tipe fitur yang cuma dicoba sekali pas awal beli, terus abis itu dilupain,” ungkap Axellio.
Lewat interface XOS 16 yang dibantu Infinix AI Assistant (Folax), mereka pengen bikin pengalaman pakai HP jadi lebih praktis, mulai dari urusan produktivitas sampai personalisasi tampilan yang pas sama selera lo.
Reviewer Tekno: Performa Tetap yang Utama!
Melihat fenomena ini, para reviewer tekno pun makin kritis. Romi Hidayat dari Droidlime ngungkapin kalau netizen dan konsumen sekarang udah makin pinter dan lebih ngehargain fitur yang solutif dibanding sekadar jargon marketing.
“Pada akhirnya, performa itu tetep jadi pondasi paling utama. AI itu bonus atau nilai tambah, tapi experience yang smooth dan konsisten tetep jadi hal yang paling dicari sama user,” jelas Romi.
Meskipun tren AI di smartphone diprediksi bakal makin masif ke depannya, para bos dan pakar industri mulai sepakat kalau masa depan teknologi ini bukan diukur dari seberapa sering kata “AI” disebut di panggung peluncuran. Masa depan AI ditentukan dari seberapa besar dampaknya dalam mempermudah hidup kita.
Ke depan, AI bakal berkembang jadi asisten yang lebih personal, gak keliatan tapi kerasa dampaknya, dan menyatu sama rutinitas harian lo. Tapi tetep, ujung-ujungnya konsumen cuma nyari satu hal: HP yang simpel, anti-lag, dan beneran fungsional. Gak cuma sekadar foya-foya kata marketing, tapi minim aksi nyata.

