Hari Pendidikan Internasional 2026: Kekuatan Pemuda Dalam Membangun Pendidikan Bersama

Trendtech, Jakarta – Pada suatu hari di akhir 2018, dunia internasional membuat sebuah keputusan penting. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tanggal 24 Januari sebagai Hari Pendidikan Internasional, sebuah pengakuan monumental bahwa pendidikan adalah fondasi bagi perdamaian dan pembangunan. Kini, di tahun 2026, peringatan ini mengusung semangat yang lebih progresif dan penuh harapan: “Kekuatan Pemuda dalam Membangun Pendidikan Bersama”.
Tema ini bukan sekadar slogan. Ini adalah pengakuan yang jujur. Lebih dari separuh populasi dunia adalah kaum muda. Mereka bukan lagi sekadar penerima pasif kurikulum yang telah ditetapkan. Di tangan mereka yang lincah dengan gawai dan jaringan internet, ada potensi untuk menjadi arsitek, desainer, dan rekan sejawat dalam menciptakan sistem pendidikan yang benar-benar inklusif, adil, berkualitas, dan relevan dengan zamannya. Suara mereka adalah kompas menuju masyarakat yang lebih damai dan berkeadilan.
Bayangkan sebuah ruang kelas. Dulu, mungkin kita membayangkan guru di depan, siswa mendengar. Kini, bayangan itu perlu diubah. Generasi muda hari ini adalah digital natives. Mereka menghirup teknologi sejak lahir, memahami dinamika era digital lebih intuitif daripada generasi pendahulunya. Lalu, bukankah wajar jika kita mendengar aspirasi mereka tentang bagaimana seharusnya proses belajar mengajar berlangsung? UNESCO pun dengan lantang memperjuangkan kemandirian ini. Tantangannya kini adalah: bagaimana kita, sebagai bagian dari ekosistem, dapat menjembatani kesenjangan dan benar-benar memberdayakan mereka?
Melampaui Akses: Menjembatani Kesenjangan yang Lebih Dalam
Ketika membicarakan kesenjangan digital di Asia Tenggara dan Oseania, pikiran kita sering langsung melayang ke infrastruktur: jaringan internet yang lambat, atau ketiadaan laptop dan tablet. Itu nyata. Tapi, ada lapisan yang lebih dalam dari sekadar akses fisik.
Bayangkan seorang siswa di pelosok desa. Ketiadaan tablet di tangannya bukan hanya berarti ia kehilangan sebuah gadget. Ia mungkin kehilangan kesempatan untuk mengakses perpustakaan digital global, kehilangan kanvas untuk menuangkan kreativitasnya, dan yang terpenting, kehilangan peluang untuk berpartisipasi dalam ekonomi digital masa depan. Bandwidth bukan cuma soal kecepatan unduh; itu tentang kecepatan meraih pengetahuan. Sebuah perangkat bukan hanya benda; itu adalah gerbang menuju kolaborasi dan penciptaan.
Data pun mengonfirmasi urgensi ini. Pada 2025, sebanyak 59% sekolah di wilayah kita telah berencana berinvestasi pada teknologi modern untuk mendigitalisasi lingkungan belajar. Ini sinyal kuat: digitalisasi bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan dasar untuk keadilan.
Namun, teknologi hanyalah alat. Keberhasilannya bergantung pada tangan yang menggunakannya. Di sinilah peran guru menjadi kunci. Teknologi canggih sekalipun tak akan berarti tanpa pendidik yang mampu menginspirasikan dan membimbing.
Memahami hal ini, pendekatan pemberdayaan harus dimulai dari para guru. Melalui platform seperti Samsung Learning Hub, tersedia berbagai pelatihan dan sumber daya untuk meningkatkan kompetensi pedagogis dan digital para pendidik. Program bootcamp dan mentoring tidak hanya untuk guru, tetapi juga untuk kepemimpinan sekolah, membangun kapabilitas yang dibutuhkan untuk memandu transformasi digital sekolah mereka. Prinsipnya jelas: teknologi harus mendukung metode pengajaran, bukan sebaliknya.
Dari Sekolah yang Bertransformasi Menuju Siswa yang Berdaya
Komitmen ini diwujudkan dalam program nyata seperti Samsung Digital Lighthouse School. Inisiatif ini memahami bahwa setiap sekolah punya titik awal digital yang berbeda. Program ini hadir bukan dengan solusi seragam, tetapi dengan pendampingan yang sesuai kondisi sekolah, menyediakan kerangka kerja, sarana, dan pengembangan kapabilitas untuk berkembang berkelanjutan.
Di Indonesia, semangat transformasi ini hidup di sekolah-sekolah seperti SMP Islam Al Azhar 25 Tangerang Selatan dan Thursina International Islamic Boarding School yang telah bergabung dalam komunitas ini. Di sini, para guru perlahan membangun kepercayaan diri menggunakan perangkat digital untuk menciptakan pembelajaran yang interaktif. Yang menarik, teknologi juga membantu meringankan beban administratif, mengembalikan fokus guru pada tugas mulianya: mengajar dan membimbing.
Puncak Pemberdayaan: Ketika Pemuda Menjadi Solusi
Setelah akses terbuka dan guru diberdayakan, kita sampai pada tujuan akhir: Kemandirian dan Agen Perubahan. Di sinilah kekuatan pemuda dalam membangun pendidikan benar-benar bersinar.
Peran kita adalah membekali mereka dengan keterampilan memecahkan masalah dunia nyata. Teknologi menjadi katalis untuk melatih berpikir kritis, kreativitas, dan kolaborasi. Semangat ini tertangkap jelas dalam program Samsung Solve for Tomorrow, sebuah kompetisi yang mengajak siswa menerapkan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, Matematika) untuk menjawab tantangan sosial di sekitar mereka.
Program ini bukan sekadar lomba. Ini adalah wadah co-creation atau pembangunan bersama sejati. Peserta ditantang untuk merancang solusi untuk dunia yang mereka inginkan. Hasilnya luar biasa. Pada 2025, hampir 17.000 anak muda di wilayah ini berpartisipasi, angka yang melonjak 40% dari tahun sebelumnya. Mereka adalah bukti nyata bahwa ketika diberi kepercayaan dan alat yang tepat, pemuda tidak hanya siap belajar, tetapi juga siap menciptakan solusi.
Baca juga: Lenovo IdeaPad Pro 5i Gen 10: Laptop AI Andalan Baru untuk Petualangan Produktif Pelajar dan Pekerja
Penutup: Membangun Bersama, untuk Masa Depan Bersama
Hari Pendidikan Internasional 2026 mengingatkan kita pada sebuah pergeseran paradigma yang mendasar. Pendidikan masa depan bukanlah sesuatu yang diberikan kepada kaum muda, melainkan sesuatu yang dibangun bersama dengan mereka.
Jalan menuju ke sana dimulai dengan menjembatani kesenjangan digital yang lebih esensial, memberdayakan guru sebagai pemandu, dan akhirnya, menyerahkan panggung kreasi kepada para siswa sendiri. Melalui komitmen berkelanjutan dan kolaborasi semua pihak, visi tentang pendidikan yang inklusif, relevan, dan membebaskan potensi setiap anak bukanlah impian. Itu adalah masa depan yang sedang kita tulis, bersama-sama.

