Samsung Innovation Campus Batch 7 Umumkan Dua Tim Terbaik, Lahirkan Solusi AI dan IoT Inovatif untuk Talenta Digital Indonesia

News|February 21, 2026|
Samsung Innovation Campus Batch 7 Umumkan Dua Tim Terbaik, Lahirkan Solusi AI dan IoT Inovatif untuk Talenta Digital Indonesia

Trendtech, Jakarta – Samsung Electronics Indonesia resmi mengumumkan dua tim terbaik dari program Samsung Innovation Campus (SIC) Batch 7 dalam ajang Culmination Event yang digelar pada 16 Februari 2026. Tim Lumyx dari SMA Darma Yudha Kota Pekanbaru, Riau, dan Tim Outliers dari Universitas Kristen Satya Wacana Kota Salatiga, Jawa Tengah, berhasil menyabet gelar juara pertama setelah melewati serangkaian pembelajaran, mentoring, dan seleksi nasional yang ketat.

Momen ini jadi bukti nyata bahwa anak muda Indonesia punya potensi besar dalam mengembangkan solusi berbasis Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT). Nggak cuma sekadar ikut program, mereka bener-bener diajak untuk berpikir kritis, memecahkan masalah di sekitar, dan menghasilkan inovasi yang berdampak langsung ke masyarakat.

Menguji Relevansi dan Dampak Solusi

Di babak Final Judging, para finalis mempresentasikan solusi AI dan IoT yang mereka kembangkan dari permasalahan nyata di lingkungan masing-masing. Dewan juri yang terdiri dari perwakilan Kementerian Agama RI, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemendikti), Samsung R&D Institute Indonesia, serta mitra industri lainnya, menilai berdasarkan sejumlah aspek penting: presentasi, kesesuaian masalah dan solusi, demonstrasi prototipe, integrasi AI dan IoT, pemahaman teknis, serta inovasi dan potensi masa depan.

Baca juga: ASUS di CES 2026: Menghadirkan Kecerdasan AI ke Setiap Sudut Kehidupan, dari Kreativitas Hingga Keseharian

Kehadiran juri profesional ini menegaskan komitmen Samsung dalam mendukung pengembangan talenta digital Indonesia—nggak cuma lewat pelatihan teknis, tapi juga memastikan bahwa solusi yang lahir benar-benar relevan dan aplikatif.

Apalagi, kebutuhan talenta digital di Indonesia makin mendesak. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat, Indonesia butuh sekitar 600.000 talenta digital per tahun buat mempercepat transformasi digital. Makanya, penguatan kompetensi di bidang AI dan IoT jadi kebutuhan strategis yang nggak bisa ditunda lagi.

Alex: Asisten Pribadi AI yang Beneran Paham Konteks

Tim Lumyx, yang berasal dari SMA Darma Yudha Pekanbaru, berhasil mencuri perhatian lewat inovasi mereka: Alex, Your Truly Personal AI. Bedanya dengan asisten virtual biasa, Alex dirancang sebagai learning companion yang bisa berinteraksi secara natural. Nggak cuma merespons perintah, Alex juga mampu mendengarkan secara real-time, merangkum informasi, dan membangun memori personal pengguna secara berkelanjutan.

Dengan dukungan pemrosesan audio-visual serta machine learning berbasis edge dan server, Alex bisa memberikan pengalaman interaksi yang lebih kontekstual—tanpa perlu aplikasi ruwet. Bayangin, punya asisten pribadi yang benar-benar “ngerti” kita. Keren, kan?

Davin Loana, perwakilan Tim Lumyx, cerita sedikit soal perjalanan mereka:
“Kami ingin menciptakan AI yang tidak hanya menjawab perintah, tetapi benar-benar memahami konteks dan kebutuhan penggunanya. Proses iterasi dan debugging justru menjadi pengalaman belajar terbesar bagi kami.”

PhysioTrack: Terapi Stroke dari Rumah yang Tetap Terpantau

Sementara itu, Tim Outliers dari Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga menghadirkan solusi yang nggak kalah inovatif: PhysioTrack. Ini adalah sistem rehabilitasi pasca stroke berbasis AI dan IoT yang memungkinkan pasien menjalani terapi dari rumah secara lebih terukur, tapi tetap terpantau oleh terapis.

Lewat integrasi sensor IoT, sistem ini mengumpulkan data latihan dan indikator fisiologis pasien. Data tersebut lalu dianalisis oleh model AI buat menghasilkan status risiko serta rekomendasi terapi berbasis data. Hasilnya, akses terapi jadi lebih luas, kualitas pemantauan klinis tetap terjaga, dan pasien pun bisa berlatih dengan lebih percaya diri.

Gaezka Ardhika Putra, perwakilan Tim Outliers, ngasih gambaran:
“Kami melihat banyak pasien kesulitan menjalani terapi rutin. Melalui integrasi AI dan IoT, kami ingin menghadirkan sistem yang membantu pasien berlatih dari rumah, namun tetap terhubung dengan terapis melalui data yang terukur.”

Pengalaman Berharga di Balik Layar

Bagi kedua tim, perjalanan di Samsung Innovation Campus Batch 7 ini bukan cuma soal kompetisi. Lebih dari itu, mereka merasakan langsung gimana rasanya jadi inventor muda yang harus bolak-balik uji coba, gagal, lalu bangkit lagi.

Pendekatan project-based learning yang diterapkan Samsung bikin mereka punya ruang buat bereksperimen dan menyempurnakan solusi sampai benar-benar siap dipresentasikan di tingkat nasional. Proses inilah yang membentuk cara pandang mereka terhadap teknologi—bukan sekadar alat, tapi solusi buat masalah nyata.

Dukungan Pemerintah untuk Talenta Digital

Transformasi digital Indonesia nggak bisa jalan sendiri. Pemerintah pun menyambut baik inisiatif seperti SIC Batch 7 yang melibatkan industri dalam mencetak talenta muda berkualitas.

Ir. Moch. Abduh, MS. Ed., Ph.D., Staf Ahli Mendikdasmen Bidang Teknologi Pendidikan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, menegaskan:
“Pembelajaran yang baik harus menghadirkan tiga aspek: mindful, meaningful, dan joyful. Siswa tidak hanya memahami materi, tetapi juga merasakan makna dalam proses belajar. Kami melihat pendekatan ini tercermin dalam SIC. Penetapan coding dan AI sebagai mata pelajaran pilihan yang berdiri sendiri juga sejalan dengan upaya memperkuat literasi digital dan menyiapkan talenta muda yang siap menghadapi masa depan.”

Senada dengan itu, Drs. Soeparto, M.Pd., Tenaga Ahli Wakil Menteri Diktisaintek – Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi RI, menambahkan:
“Para peserta bukan sekadar kontestan, tetapi pionir muda yang merancang masa depan melalui inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Pengembangan talenta digital tidak bisa menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Kolaborasi dengan industri, seperti Samsung melalui SIC, sangat penting untuk memperkuat ekosistem digital nasional. Saya berharap para pemenang terus mengembangkan prototipe mereka karena potensinya sangat besar untuk membawa dampak nyata.”

Samsung: Membuka Peluang bagi Generasi Muda

Komitmen Samsung dalam mencetak talenta digital Indonesia lewat program Samsung Innovation Campus udah berjalan sejak lama. Batch 7 ini jadi bukti bahwa pendekatan berbasis proyek mampu menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri digital.

Bagus Erlangga, Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, menyampaikan:
“Samsung Innovation Campus tidak hanya tentang pembelajaran teknologi, tetapi tentang membuka peluang. Kami percaya setiap anak muda memiliki potensi besar ketika diberi akses, bimbingan, dan kepercayaan. Kami mengucapkan selamat kepada tim terbaik atas pencapaian luar biasa ini. Pencapaian ini adalah bukti kerja keras, ketekunan, dan semangat kolaborasi yang ditunjukkan sepanjang program.”

Baca juga: Motorola Pamerkan Inovasi Gemilang di Lenovo Tech World 2026: Razr Fold, AI Cerdas, dan Sentuhan Eksklusif FIFA

Masa Depan Cerah untuk Inovator Muda

Culmination Event SIC Batch 7 bukan sekadar akhir dari sebuah program. Ini adalah awal dari perjalanan panjang para peserta untuk terus berinovasi dan membawa perubahan lewat teknologi. Dengan bekal keterampilan AI dan IoT yang udah diasah, mereka siap berkontribusi nyata dalam ekosistem digital nasional.

Sejalan dengan visi global Samsung, “Enabling People”, program ini terus mendorong generasi muda Indonesia buat berani bermimpi, berinovasi, dan nggak takut mencoba. Siapa tahu, dari tangan merekalah lahir solusi-solusi besar yang bakal mengubah Indonesia di masa depan.

Pantengin terus trendtech.id buat update berita teknologi terkini dan inspirasi inovasi anak bangsa lainnya!

By Published On: February 21, 2026Categories: NewsTags: ,