Trendtech, Jakarta – Presiden Donald Trump baru saja mengumumkan kebijakan tarif impor global terbaru pada 2 April 2025, dan kabar buruknya—konsumen AS mungkin harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli ponsel flagship seperti iPhone dan Samsung Galaxy.
Kebijakan ini terutama berdampak pada dua raksasa teknologi: Apple dan Samsung, yang menguasai pangsa pasar smartphone terbesar di Amerika Serikat. Menurut Ben Wood, analis utama CCS Insight, kenaikan tarif ini bisa menjadi pukulan berat karena kedua brand sangat bergantung pada produksi di China dan Vietnam.
Baca juga:Â Tren Investasi AI di Asia Pasifik dan ASEAN: Fokus pada ROI dan Tantangan Adopsi
China Kena Tarif 34%, Vietnam 46%—Apa Dampaknya?
Dalam kebijakan terbaru Trump, China dikenai tarif 34%, sementara Vietnam menghadapi bea masuk hingga 46%. Bahkan, Trump menyebut bahwa biaya aktual untuk produk China bisa lebih tinggi jika memperhitungkan komponen lainnya.
Artinya? Harga jual iPhone dan Galaxy di AS kemungkinan akan naik, kecuali Apple dan Samsung menemukan solusi untuk menyerap biaya tambahan ini. Jika tidak, konsumenlah yang akhirnya menanggung beban harga lebih tinggi.
Apple & Samsung Sudah Coba Kurangi Ketergantungan pada China
Sebenarnya, baik Apple maupun Samsung sudah mulai memindahkan sebagian produksi mereka keluar dari China, seperti ke Vietnam dan India. Namun, India sendiri juga terkena tarif sebesar 26%, sehingga belum sepenuhnya menjadi solusi ideal.
Jika tarif ini benar-benar diterapkan, margin keuntungan kedua perusahaan bisa menyusut, kecuali mereka menaikkan harga jual. Pertanyaannya sekarang—akankah konsumen AS tetap loyal membeli iPhone dan Galaxy dengan harga lebih mahal?
Baca juga:Â Indosat Ooredoo Hutchison Optimalkan Jaringan dengan AI Hadapi Lonjakan Trafik Ramadan & Lebaran
Apa yang Bisa Dilakukan Konsumen?
Bagi penggemar Apple dan Samsung di AS, ada beberapa opsi:
- Menunda upgrade sampai ada diskon atau penyesuaian harga.
- Mempertimbangkan model lama yang harganya lebih stabil.
- Beralih ke brand lain jika kenaikan harga terlalu signifikan.
Sementara itu, kita tunggu bagaimana Apple dan Samsung merespons kebijakan ini. Apakah mereka akan menaikkan harga, mencari negara produksi baru, atau justru menyerap biaya tambahan?
Bagaimana pendapatmu? Apakah kamu tetap akan beli iPhone atau Galaxy meski harganya naik? Beri tahu kami di kolom komentar!