Gila! Ada 182 Serangan Siber Per Detik, ITSEC Asia Tegaskan Keamanan Digital Indonesia Sudah Darurat

Trendtech, Jakarta – Lanskap digital kita lagi nggak baik-baik saja nih, Guys. Di saat kondisi ekonomi global lagi naik-turun dan bikin banyak perusahaan mikir dua kali buat belanja teknologi, ancaman serangan siber di Indonesia justru makin ngegas dan makin canggih.
Melihat fenomena ini, PT ITSEC Asia Tbk (IDX: CYBR)—satu-satunya emiten keamanan siber di Bursa Efek Indonesia—menegaskan kalau keamanan digital itu bukan lagi sekadar opsi atau biaya operasional tambahan. Cybersecurity sekarang sudah jadi kebutuhan strategis yang wajib hukumnya!
Tahu nggak? Ketegangan ekonomi dunia, mulai dari perang dagang sampai urusan tarif, ternyata punya efek domino ke dunia digital. Pola ini sebenarnya mirip sama konflik dagang AS-Tiongkok tahun 2018 lalu, dan sekarang keulang lagi dengan skala yang lebih masif.
Fakta Menarik dari Data Global (Gartner & WEF 2025):
- USD 213 Miliar: Total duit yang digelontorkan dunia buat belanja keamanan informasi.
- 4% Saja: Rata-rata pertumbuhan anggaran cybersecurity global (gara-gara inflasi).
- 54% Organisasi Besar: Ngaku kalau celah keamanan di rantai pasok (supply chain) jadi beban terberat mereka.
Pas banyak perusahaan global ngerem budget IT mereka, para pelaku kejahatan siber justru nggak ikut resesi. Mereka malah memanfaatkan celah penghematan itu buat bobol sistem pertahanan digital.
Kondisi ini bikin tren dunia bergeser ke arah ‘onshoring‘ atau memilih penyedia keamanan lokal. Kenapa? Karena perusahaan butuh solusi yang paham regulasi lokal dan kedaulatan data regional. Di sinilah ITSEC Asia mengambil panggung sebagai pemain lokal utama di Indonesia.
Indonesia Darurat Siber: 182 Kali Percobaan Serangan Tiap Detik!
Angka ini bukan kaleng-kaleng. Data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat ada lebih dari 5,16 miliar anomali trafik di Indonesia dalam setahun terakhir. Kalau didekatkan, itu setara dengan 182 percobaan serangan siber per detik!
Gara-gara angka ini, Indonesia sekarang nangkring di peringkat ke-12 di kawasan Asia Pasifik buat urusan aktivitas siber paling sibuk. Sektor yang paling sering diincar mulai dari keuangan, energi, telekomunikasi, sampai instansi pemerintahan.
Slamet Aji Pamungkas, Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, sempat ngingetin kalau ancaman siber sekarang bukan cuma masalah tim IT doang, tapi sudah jadi tantangan strategis buat para bos besar di perusahaan. Di era AI kayak sekarang, investasi ke teknologi, sistem, dan SDM siber itu sifatnya sudah wajib dan mendesak.
Hati-hati sama ‘Stealer Malware’ yang Makin Pintar
Tim Threat Intelligence ITSEC Asia juga membocorkan kalau ancaman paling ngeri saat ini datang dari kelompok stealer malware. Gak cuma maling password biasa, mereka sekarang bisa mencuri cookies, session token, sampai kredensial cloud kamu.
Data BSSN menunjukkan kalau 93,78% anomali trafik di Indonesia berbasis malware. Parahnya lagi, para hacker sekarang pakai kecerdasan buatan (AI) buat bikin konten phishing yang rapi banget, bikin kita makin susah membedakan mana yang asli dan mana yang tipuan.
Sekali data internal perusahaan jebol, dampaknya bisa merembet ke pengambilalihan akun (account takeover), penipuan email bisnis, sampai pintu masuk buat serangan ransomware yang minta tebusan miliaran rupiah.
Terlebih lagi, regulasi di Indonesia makin ketat dengan resminya Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) dan masuknya RUU Keamanan dan Ketahanan Siber (RUU KKS) ke Prolegnas Prioritas. Jadi, mau nggak mau, perusahaan harus makin melek cybersecurity.
ITSEC Asia: Benteng Lokal untuk Amankan Digitalisasi Nasional
Sebagai satu-satunya jawara lokal di bursa saham, ITSEC Asia (CYBR) hadir sebagai solusi yang nggak bergantung sama rantai pasok asing. Mereka sudah berpengalaman lebih dari satu dekade mengawal sektor keuangan dan infrastruktur kritis Indonesia.
Portofolio andalan mereka seperti IntelliBroń Orion dan Aman fokus pada intelijen ancaman tingkat lanjut. Ditambah lagi, ada ITSEC AI Operations Center yang siap membantu transformasi digital di sektor BUMN dan pemerintahan yang lagi gencar-gencarnya.
Nggak cuma jualan produk, mereka juga bikin ITSEC Cyber and AI Academy buat mencetak talenta-talenta siber muda baru di Indonesia. Keren banget, kan?
“Tekanan ekonomi global nggak bakal bikin kriminal siber pensiun, justru malah makin menjadi-jadi,” kata Patrick Dannacher, Presiden Direktur ITSEC Asia. “Indonesia berada dalam kondisi yang nggak bisa lagi ditangani dengan cara reaktif. Kami membangun ITSEC Asia sebagai infrastruktur yang sudah siap siaga kapan pun krisis itu datang.”
Baca juga: City Vision Resmikan Lima LED Berteknologi Tinggi
Momentum Regulasi Jadi Booster Bisnis
Langkah ITSEC Asia ini didukung penuh oleh arah regulasi pemerintah. Mulai dari penegakan UU PDP, godokan RUU Keamanan Siber, hingga peta jalan AI nasional yang dirancang oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Karena sering berkolaborasi langsung dengan Komdigi, BSSN, hingga Bank Indonesia, ITSEC Asia punya posisi kuat sebagai mitra strategis negara yang susah ditiru oleh kompetitor asing.
“Indonesia lagi ada di momen penting penentu arah transformasi digital. Kecepatan upgrade teknologi harus diimbangi dengan fondasi keamanan yang sama kuatnya. ITSEC Asia ada di sini untuk memastikan pertumbuhan digital kita punya landasan yang solid dan nggak rapuh,” tutup Patrick.

