AI Fraud Makin Ngeri, Indosat Business Ajak Perusahaan Indonesia Gak Cuma ‘Melek’ Digital Tapi Juga Kuat Siber

Trendtech, Jakarta – Bayangkan ekonomi digital Indonesia bakal tembus USD 340 miliar di tahun 2030. Angka yang fantastis, kan? Tapi di balik gaya hidup serba digital, mulai dari AI, cloud, sampai fintech, ada ancaman “hacker” yang makin pinter. Gak cuma sekadar jebol password, sekarang zamannya penipuan pakai AI (AI-enabled fraud) yang makin sulit dibedain sama aslinya.
Melihat fenomena ini, Indosat Business (bagian dari Indosat Ooredoo Hutchison) gak tinggal diam. Mereka baru saja merilis whitepaper bertajuk “A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience”. Isinya? Sebuah “peta jalan” biar perusahaan di Indonesia gak cuma sekadar punya teknologi, tapi punya “imunitas” atau ketahanan siber (cyber resilience) yang beneran tangguh.
Baca juga: Indosat Raih Pertumbuhan Dua Digit di Awal 2026 Berkat Hyper-Personalization AI
Fenomena “Resilience Gap”: Transformasi Cepet, Keamanan Lemot?
Ada istilah menarik di whitepaper ini: Resilience Gap. Sederhananya, ini adalah kondisi di mana perusahaan ngebut banget buat urusan transformasi digital, tapi sistem keamanannya masih jalan di tempat. Akibatnya, ada celah lebar yang bisa dimanfaatin pelaku kejahatan siber.
Muhammad Buldansyah, Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, bilang kalau ketahanan siber itu bukan lagi cuma urusan orang IT di pojokan kantor.
“Hari ini, cyber resilience adalah fondasi kepercayaan dan keberlangsungan bisnis. Ini soal gimana bisnis bisa tetap jalan meski lagi diserang,” ujarnya.
Ngerinya AI Fraud: Naik 1.550%!
Gak main-main, kolaborasi Indosat Business dengan pakar keamanan siber, Dr. Ir. Charles Lim, mengungkap data yang bikin merinding. Di sektor fintech Indonesia, penipuan berbasis AI melonjak drastis sampai 1.550%. Modusnya macam-macam, mulai dari deepfake (video palsu) sampai AI voice impersonation yang bisa niru suara bos kamu buat minta transferan.
Ingat kejadian pusat data nasional yang sempat lumpuh tahun 2024? Itu adalah salah satu contoh nyata betapa krusialnya sistem yang adaptif. Dr. Charles Lim menekankan, “Organisasi perlu geser dari cara lama yang cuma nunggu serangan (reaktif), jadi lebih adaptif dan berkelanjutan.”
Cuma 11% Perusahaan yang Beneran Siap
Ada fakta pahit lainnya nih: menurut Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025, ternyata cuma 11% organisasi di Indonesia yang beneran siap ngadepin serangan siber modern. Padahal, kalau data bocor, rata-rata kerugiannya bisa tembus Rp15 miliar. Belum lagi ada aturan UU Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) yang mewajibkan perusahaan lapor insiden dalam 72 jam. Kalau telat, urusannya bisa panjang!
Baca juga: Indosat HiFi Air Resmi Meluncur: Internet Rumah Tanpa Kabel, Bisa Dibawa Mudik!
Strategi “Human Firewall” dan Zero Trust
Lalu, gimana solusinya? Di dalam whitepaper tersebut, Indosat Business ngenalin strategi seperti Zero Trust Architecture (jangan asal percaya koneksi apa pun) dan Human Firewall. Artinya, karyawan juga harus diedukasi supaya gak gampang kena tipu link-link mencurigakan.
Indosat Business berkomitmen jadi mitra buat sektor finansial, manufaktur, sampai pemerintahan supaya punya ekosistem digital yang aman. Jadi, transformasi digital bukan lagi soal gaya-gayaan pakai teknologi terbaru, tapi soal gimana kita melindungi aset paling berharga di era ini: Data.
Mau baca riset lengkapnya? Buat kamu yang mau mendalami strateginya atau pengen tahu detail risetnya, langsung aja unduh whitepaper resminya di: www.ioh.co.id/cybersecurity_whitepaper.

