Bukan Cuma Fiksi! Nvidia Gandeng Unitree Racik Robot AI Humanoid Pertama untuk Peneliti

Trendtech, Jakarta – Kebayang nggak sih kalau robot humanoid yang biasa kita lihat di film fiksi ilmiah bakal segera nongkrong di laboratorium kampus? Langkah besar ini baru saja diwujudkan oleh raksasa teknologi Nvidia. Demi mendorong era “Physical AI” atau kecerdasan buatan fisik yang lebih nyata, Nvidia resmi bermitra dengan produsen robot asal China, Unitree, untuk merilis sistem komputasi robotika terintegrasi pertamanya yang siap dipasarkan khusus bagi para peneliti akademik di seluruh dunia.
Langkah ini memperlihatkan tren baru di industri teknologi global: perangkat lunak AI jempolan asal Amerika Serikat kini berpadu dengan inovasi perangkat keras andalan Tiongkok. Sektor robotika global pun pelan tapi pasti mulai bergeser, dari yang dulunya cuma sebatas prototipe eksperimental di dalam lab, sekarang bertransformasi menjadi sistem robot humanoid massal yang siap diproduksi dalam skala besar.
Kolaborasi Epik: Otak Dewa Nvidia dan Tubuh Robot Unitree
Kemitraan strategis antara Nvidia Unitree ini memadukan keunggulan dari dua dunia yang berbeda. Robot humanoid berkode H2 bikinan Unitree yang punya tinggi hampir 6 kaki (sekitar 180 cm) bakal dipersenjatai dengan platform komputasi super canggih Jetson Thor milik Nvidia. Menariknya, platform ini sudah menanamkan arsitektur GPU Blackwell teranyar, yang memungkinkan proses komputasi kecerdasan buatan (AI) super berat langsung dieksekusi di dalam perangkat tanpa lemot.
Bukan cuma sekadar rakitan hardware, paket komplet ini juga sudah di-bundling dengan model robot humanoid referensi andalan Nvidia yang dinamakan Isaac GR00T. Paket ini juga dilengkapi dengan software simulasi khusus yang dirancang untuk mempercepat pelatihan robotika. Biar makin luwes dalam bergerak, robot ini mengintegrasikan tangan mekanik presisi tinggi buatan startup Singapura, Sharpa. Sebagai informasi, Unitree sendiri merupakan startup yang disokong oleh investor kakap Qiming Venture Partners.
Visi Triliunan Dolar Jensen Huang
CEO Nvidia, Jensen Huang, berkali-kali menegaskan kalau teknologi AI fisik ini bukan cuma tren sesaat, melainkan bakal bertransformasi jadi industri baru bernilai triliunan dolar AS. Di depan para investor, Jensen membocorkan kalau sektor robotika diprediksi kuat bakal jadi mesin pertumbuhan paling ngebut bagi Nvidia selama lima tahun ke depan.
“Hari ini, kami resmi mengenalkan Nvidia Isaac Root, sebuah referensi robot humanoid yang terintegrasi penuh. Robot ini punya 25 derajat kebebasan (degree of freedom) di setiap tangannya buatan Sharpa, dan total 31 derajat kebebasan pada seluruh tubuhnya. Tingginya 6 kaki dengan berat 150 pon, pas banget mirip ukuran tubuh saya,” ujar Jensen Huang saat memberikan pidato utama di Taipei.
Jensen juga menambahkan kalau seluruh ekosistem software, mulai dari generator data, simulasi, hingga runtime terintegrasi penuh di dalam robot ini agar bisa langsung dipakai oleh semua orang. Alasan utama Nvidia membangun platform ini adalah untuk mempermudah kalangan akademisi dan peneliti universitas yang selama ini sering kesulitan setengah mati kalau harus merakit sistem robotika canggih dari nol. Langkah cerdas ini sekaligus memperluas cengkeraman Nvidia di industri software robotika global lewat ekosistem CUDA yang sudah sangat populer di kalangan developer.
Langkah Unitree Menuju IPO Global
Momentum kerja sama Nvidia Unitree ini pas banget dengan langkah bisnis Unitree yang lagi bersiap melakukan penawaran saham perdana (IPO). Startup robotika asal Tiongkok ini kabarnya tengah mengincar dana segar sebesar 4,2 milar yuan atau setara Rp 9,4 triliun ($620 juta) di pasar STAR Shanghai yang aplikasinya ditinjau pada hari Senin ini.
Meskipun situasi geopolitik global terkait ekspor teknologi tinggi kelewat ketat, Unitree terbukti punya taji di pasar internasional. Faktanya, lebih dari 40% pendapatan Unitree justru disumbang dari luar pasar domestik China. Buat yang udah nggak sabar, versi upgrade dari robot ini yang dinamakan H2 Plus dijadwalkan bakal resmi meluncur dan dijual bebas ke publik mulai Oktober mendatang.
Saat ini, sudah ada empat lembaga riset dunia yang dikonfirmasi bakal mengadopsi sistem robotika canggih ini, di antaranya:
-
Allen Institute for AI (Seattle)
-
ETH Zurich (Swiss)
-
Stanford University Robotics Center
-
Advanced Robotics and Controls Lab, UC San Diego
(Catatan menarik: Tidak ada satu pun lembaga riset dari Tiongkok daratan yang terdaftar dalam proyek awal ini).
Baca juga: 10 HP Paling Laris di Dunia 2026: Spek Badak Mulai Rp 1 Jutaan, Anti FOMO Berbulan-bulan!
Demokratisasi Teknologi: Keluar dari Monopoli Raksasa Tech
Selama ini, riset robot humanoid super canggih cuma bisa dinikmati oleh segelintir perusahaan teknologi raksasa (Big Tech) berbudget tak terbatas atau startup unicorn kelas kakap. Kehadiran kolaborasi Nvidia Unitree ini dinilai mendobrak batasan tersebut agar riset masa depan bisa diakses oleh laboratorium manapun secara inklusif.
Rev Lebaredian, Wakil Presiden Simulasi AI Fisik di Nvidia, menyebutkan bahwa langkah ini bener-bener mengambil alih penelitian humanoid mutakhir dari tangan korporasi teknologi terbesar di dunia dan membuatnya kini bisa dijangkau oleh setiap laboratorium riset di dunia.
Walaupun saat ini adopsi robot humanoid komersial secara massal masih terbatas pada area industri terkontrol seperti pergudangan karena ganjalan regulasi, privasi, dan faktor keamanan, kolaborasi ini membuka gerbang lebar-lebar menuju masa depan. Melalui lahan uji awal di sektor akademis, lompatan teknologi dari prototipe eksperimental menuju sistem robot pintar serbaguna yang bisa membantu kehidupan sehari-hari manusia tampaknya tinggal menunggu waktu saja.

