Bukan Sekadar Jago AI! Anak Muda di Samsung Solve for Tomorrow 2026 Belajar Solusi Tepat Sasaran

Trendtech, Jakarta – Di era kecerdasan buatan (AI) yang makin canggih dan gampang diakses, ternyata cuma bisa pakai alatnya aja nggak cukup, guys. Anak muda zaman now dituntut buat lebih peka nemuin masalah nyata di lapangan, paham siapa yang butuh bantuan, sampai milihin teknologi yang beneran pas. Nah, semangat itulah yang dibakar habis-habisan di ajang Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026.
Langkah ini makin nyambung sama arah transformasi pendidikan di Indonesia. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sendiri udah mulai dorong AI dan coding jadi pelajaran pilihan dari kelas 5 SD. Jadi, ekosistemnya emang lagi disiapin banget biar generasi muda nggak cuma jadi penonton, tapi juga pemain utama di dunia digital.
Baca juga:RAIA Grid Resmi Meluncur, Siap Jadi ‘Jalan Tol Digital’ Berbasis AI Super Ngebut di Indonesia!
Memasuki babak semifinal SFT 2026, sebanyak 296 peserta jempolan dari 80 tim sukses menyisihkan sekitar 4.000 pendaftar awal. Mereka dapet penggemblengan intensif lewat pelatihan teknis bernama AI Amplification. Di sini, logika problem solving mereka bener-bener diuji biar nggak asal caplok teknologi.
Jangan Cuma “Pakai AI”, Tapi Mulai dari Masalahnya!
Sering banget kan kita kedistraksi sama pertanyaan: “Bikin AI apa ya yang keren?” Nah, di sesi AI Amplification, mindset salah kaprah ini langsung diluruskan. Para peserta diajarin buat muter balik pertanyaannya jadi: “Masalah apa sih yang bener-bener krusial buat diselesaiin?” Dari situ baru deh dipetain kebutuhan data dan racikan AI yang pas.
Kerennya lagi, buat pertama kalinya di Indonesia, pelatihan babak semifinal ini digelar secara hybrid langsung dari kantor Samsung Indonesia pada pertengahan Agustus 2026 lalu. Peserta digembleng biar tahu betul kalau AI itu cuma alat bantu, bukan titik awal ide.
“Dalam mengembangkan solusi berbasis AI, peserta perlu memahami bahwa teknologi bukanlah titik awal. Mereka perlu terlebih dahulu mengidentifikasi masalah, memahami kebutuhan pengguna, dan melihat data yang tersedia,” tegas Rahmat Fajri, AI Engineer sekaligus pengajar Technical AI Amplification SFT 2026.
Dari Cuma “Punya Ide” Jadi “Bikin Solusi Nyata”
Nggak cuma dengerin teori membosankan, para semifinalis langsung nyebur ke sesi hands-on. Mereka belajar menyusun AI development pipeline, mulai dari olah data, pilih model AI, fine-tuning, sampai paham bedanya Edge AI sama Cloud AI. Semua ilmu mahal ini dipakai buat memoles Concept Paper mereka agar makin matang.
Materi yang dilahap juga komplit banget, mulai dari Machine Learning, Generative AI, Computer Vision, sampai Natural Language Processing (NLP). Hasilnya? Perspektif peserta langsung bergeser dari sekadar bikin hal yang kelihatan “canggih” jadi produk yang bener-bener kepakai buat masyarakat.
Skill AI Itu Nggak Cuma Urusan Kodingan!
Buat jadi inovator masa kini, jago ngetik baris kode doang jelas nggak cukup. Samsung Solve for Tomorrow paham betul kalau soft skill kaya komunikasi, kolaborasi, dan empati sama lingkungan sekitar itu kuncinya. Teknologi yang hebat adalah teknologi yang bisa nyelesaiin problem manusia tanpa bikin ribet.
Baca juga: ITSEC Cyber & AI Academy Meluncur: Cetak Talenta Digital dan Amankan Era AI Indonesia
Anggi Paramita, Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, nambahin kalau generasi muda punya potensi raksasa yang cuma butuh wadah tepat. “Inovasi tidak lahir dari teknologi semata, tetapi dari keberanian untuk melihat masalah dengan cara yang berbeda. Bukan sekadar bisa membuat, tapi tahu apa yang perlu dibuat,” ungkap Anggi.
Setelah berdarah-darah di tahap AI Amplification, para peserta bakal masuk ke sesi mentoring eksklusif buat bikin prototype dan pitch video. Puncaknya, Samsung bakal ngumumin 10 tim terbaik dari kategori Siswa dan Mahasiswa pada 7 Oktober 2026 mendatang buat berlaga di babak Grand Final. Kita tunggu aksi gokil mereka selanjutnya!

