Bikin Rumah Makin Cozy! Signify Ungkap Tren Smart Lighting dan Masa Depan Connected Home di Asia

Trendtech, Jakarta – Zaman sekarang rumah bukan sekadar tempat tidur atau rebahan usai seharian beraktivitas. Hunian modern udah berubah fungsi jadi tempat kerja buat yang work from home (WFH), tempat belajar anak, sampai spot santai keluarga lintas generasi.
Perubahan gaya hidup yang super dinamis ini bikin ekspektasi masyarakat Asia terhadap rumah ikut bergeser tajam. Melihat fenomena tersebut, Signify penyuplai pencahayaan global menegaskan bahwa masa depan connected home di Asia sebenarnya gak cuma diatur oleh canggihnya teknologi, melainkan oleh lifestyle penguninya.
Rumah Multi-Fungsi Bikin Kebutuhan Pencahayaan Makin Fleksibel
Data dari Pew Research Center nunjukin kalau lebih dari empat dari sepuluh orang di kawasan Asia Pasifik tinggal bareng keluarga besar. Banyak keluarga yang mendiami rumah compact, di mana ruang tamu harus multi-tasking jadi tempat kerja WFH, tempat les anak, sekaligus area kumpul keluarga.
Baca juga: 7 Gadget Baru Oktober 2026 yang Makin Canggih dan Wajib Masuk Wishlist!
Gak cuma itu, studi Reeracoen x Rakuten Insight mencatat sekitar 72% pekerja di Asia Pasifik memilih sistem kerja hybrid. Fleksibilitas pun jadi harga mati demi menjaga produktivitas sekaligus kenyamanan di rumah.
“Kita sering membicarakan connected home sebagai cerita tentang teknologi. Namun, saya meyakini bahwa connected home adalah cerita tentang manusia serta bagaimana kehidupan dan ekspektasi mereka terhadap rumah terus berkembang,” ujar CEO Signify, As Tempelman.
Tempelman menambahkan kalau pencahayaan adalah cara paling natural buat mengatur vibes rumah. Lampu bisa bikin mood fokus saat kerja di pagi hari, hangout hangat bareng keluarga di sore hari, sampai mode calm pas mau tidur.
Solusi Pintar Tanpa Ribet: Nggak Pakai Ringkes Aplikasi!
Banyak konsumen sebetulnya pengen punya rumah pintar, tapi sering bingung harus mulai dari mana. Riset Signify di kawasan ASEAN menemukan kalau momen kayak pindah rumah, renovasi, atau baru berkeluarga adalah waktu paling pas buat menjajal smart lighting.
Menariknya, kebutuhan tiap negara di Asia Tenggara beda-beda:
-
Thailand: Smart lighting wajib terkoneksi mulus dengan ekosistem smart home yang sudah ada.
-
Malaysia: Kepraktisan mematikan atau meredupkan lampu langsung dari tempat tidur jadi favorit utama.
-
Indonesia: Keluarga Indonesia makin mengandalkan pencahayaan pintar buat bikin suasana kamar anak dan area bersantai jadi jauh lebih cozy.
Aspirasi masyarakat Indonesia kini sudah bergeser dari lampu konvensional ke smart lighting yang serba otomatis. Kamu bisa kontrol warna dan tingkat terang lampu cukup lewat smartphone, remote, atau perintah suara (voice assistant).
Baca juga: 7 HP dengan Baterai 8000mAh+ yang Bikin Bebas Lowbat
Pasar Smart Lighting Meroket, Philips Siapkan Produk Komplit
Kemudahan ini bikin pasar smart lighting global diproyeksikan melonjak drastis hingga mencapai USD 173,21 miliar pada tahun 2034 mendatang. Tren positif ini dipastikan bakal menular deras ke Indonesia seiring menjamurnya konsep rumah pintar.
Menjawab kebutuhan tersebut, Signify menghadirkan jajaran Philips Smart Lighting yang dirancang intuitif dan paham banget kebiasaan harian penggunanya.
“Philips Smart Lighting telah dirancang agar mudah digunakan, intuitif, dan memahami kebiasaan pengguna. Produk kami hadir lengkap mulai dari smart bulb, downlight, light strip, light bar, hingga smart spotlight,” jelas Dedy Bagus Pramono, President Director Signify Commercial Indonesia.
Dengan pilihan yang makin variatif dan cara pakai yang gampang, beralih ke smart lighting jelas jadi langkah paling simpel buat bikin rutinitas harian di rumah makin effortless dan aesthetic!

