Kejar Target 9 Juta Talenta Digital 2030, vivo NexGen Scholars Beri Jalan Generasi Muda Kuasai Teknologi

Trendtech, Jakarta – Pernah terpikir nggak sih kalau di tahun 2030 nanti, Indonesia bakal butuh sekitar 9 juta orang yang jago di bidang digital? Masalahnya, saat ini kita baru punya sekitar 6 juta talenta. Masih ada “lubang” besar yang harus diisi supaya Indonesia nggak cuma jadi penonton di negeri sendiri saat transformasi digital makin ngegas.
Menjawab tantangan itu, bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional, vivo Indonesia kembali mempertegas komitmennya. Lewat program beasiswa vivo NexGen Scholars, vivo nggak cuma jualan smartphone, tapi juga investasi besar-besaran buat masa depan anak muda Indonesia di bidang sains dan teknologi.
Banyak lulusan vokasi atau SMK yang sebenarnya punya skill, tapi sering mentok karena akses ke pendidikan tinggi atau peluang kerja yang terbatas. Inilah yang mau dipangkas oleh vivo.
Bekerja sama dengan Hoshizora Foundation dan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), vivo membuka pintu buat 60 mahasiswa terpilih dari jalur SNBP dan SNBT. Mereka dikasih beasiswa penuh buat kuliah di jurusan “basah” seperti Teknik Informatika sampai Teknologi Game.
“Kami ingin memastikan anak muda kita nggak cuma punya akses sekolah, tapi punya skill yang benar-benar dicari industri,” ungkap Arga Simanjuntak, Public Relations Director vivo Indonesia. Baginya, pendidikan adalah investasi jangka panjang yang nggak bisa ditawar.
Kisah Inspiratif: Dari Pedagang Kopi hingga Pejuang Perantauan
Yang bikin program ini terasa “hidup” adalah cerita-cerita hebat di baliknya. Beasiswa ini bukan sekadar angka di kertas, tapi perubahan nasib yang nyata bagi penerimanya di berbagai daerah:
-
Evan Eka Kurniawan (Banyuwangi, Jawa Timur): Anak seorang pedagang kopi eceran ini membuktikan keterbatasan ekonomi bukan penghalang. Dengan IPK nyaris sempurna (3,9), Evan kini fokus jadi pengembang aplikasi dan game masa depan.
-
Zahra Adientya Putri (Tulungagung): Mahasiswi Teknologi Game ini kini bisa bernapas lega karena bisa kuliah tanpa membebani orang tua, sembari aktif di berbagai proyek kreatif kampus.
-
Izzal Maula Al Faqiih (Balikpapan, Kalimantan Timur): Meski harus berjuang sebagai perantau dan kehilangan sosok ibu, Izzal tetap tegak di jurusan Teknik Informatika demi membuka peluang hidup yang lebih besar.
-
Arkan Maulana Rizki (Kalimantan Tengah): Mantan korban bullying ini mengubah luka masa lalu menjadi motivasi di jurusan Teknik Elektronika. Ia bermimpi membangun usaha teknologi energi yang bermanfaat buat warga lokal di daerahnya.
Ada juga Ubayy Tsany Galiadupda yang sempat gagal di proyek machine learning, tapi bangkit hingga sukses bikin chatbot AI untuk membantu UMKM. Keren banget, kan?
Baca juga: Sharp Indonesia Perkuat Komitmen Keberlanjutan lewat Aksi Nyata di Hari Bumi 2026
Bukan Sekadar Kuliah, Tapi Siap Kerja
Program vivo NexGen Scholars ini fokus ke enam bidang strategis: Teknik Informatika, Sains Data Terapan, Teknik Elektronika, Teknik Telekomunikasi, Teknik Elektro Industri, dan Teknologi Game.
Yudi Anwar, Executive Director Hoshizora Foundation, menyebutkan kalau rata-rata IPK para penerima beasiswa ini mencapai 3,41. “Ini sinyal positif. Mereka nggak cuma belajar teori, tapi aktif di komunitas dan kompetisi. Mereka benar-benar dipersiapkan untuk terjun ke dunia kerja yang makin digital,” jelasnya.
Dengan langkah-langkah nyata seperti ini, impian Indonesia punya 9 juta talenta digital di 2030 bukan lagi sekadar angka di atas kertas. Lewat vivo NexGen Scholars, generasi muda dari berbagai sudut Indonesia kini punya “senjata” buat bertarung di masa depan.
Jadi, buat kamu yang lagi berjuang di dunia teknologi, tetap semangat ya! Karena masa depan digital Indonesia ada di tangan kalian.

