Kemnaker Gandeng TikTok: Buka Peluang Kerja Baru di Ekonomi Digital

News|April 17, 2026|
Kemnaker Gandeng TikTok: Buka Peluang Kerja Baru di Ekonomi Digital

Trendtech, Jakarta – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) resmi Kemnaker gandeng TikTok untuk membuka lebih banyak peluang kerja melalui program bernama BISA Bareng TikTok.

Kolaborasi ini bukan sekadar seremonial. Ada target nyata: menyiapkan tenaga kerja Indonesia agar makin adaptif dengan perubahan zaman. Penandatanganan kesepahaman bersama sudah dilakukan, sebagai langkah awal program upskill dan reskill yang sangat dibutuhkan saat ini.

Mengapa kerja sama ini penting? Karena ekonomi digital Indonesia sedang tumbuh luar biasa cepat. Berdasarkan laporan e-Conomy SEA, nilai ekonomi digital RI diperkirakan mencapai hampir USD 100 miliar atau sekitar Rp1.656 triliun pada 2025.

Baca juga: Alibaba.com Luncurkan “Trade Assurance” di Indonesia untuk Amankan dan Percepat Ekspor UMKM

Angka ini menjadikan Indonesia sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Kontributor utamanya adalah sektor e-commerce. Artinya, peluangnya sangat besar, tapi siapa yang siap merebutnya?

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Yassierli, menjelaskan bahwa ruang digital kini sudah berubah. Dulu hanya tempat transaksi, sekarang jadi ekosistem yang melahirkan banyak pekerjaan baru.

Contohnya? Kini banyak masyarakat yang jadi:

  • Reseller dan dropshipper

  • Pembuat konten (content creator)

  • Live streamer

  • Affiliate marketer

“Perkembangan ekonomi digital membuka peluang penghasilan tambahan yang fleksibel, terutama melalui tren discovery commerce. Ini membuka ruang kerja baru yang harus disambut dengan kesiapan keterampilan yang memadai,” ujar Yassierli di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Meski peluang menggiurkan, Menaker mengakui tantangannya masih besar. Banyak tenaga kerja yang belum menguasai strategi konten, teknik jualan digital, hingga analisis pasar.

Nah, di sinilah peran program BISA Bareng TikTok. Pelatihan ini hadir agar peluang ekonomi digital tidak hanya dinikmati segelintir orang, tapi bisa diakses banyak kalangan.

“Program ini hadir untuk memberikan pelatihan praktis guna meningkatkan kompetensi tenaga kerja, memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat, sekaligus membangun kapasitas trainer nasional sebagai agen literasi digital,” tegas Yassierli.

Tahap awal program ini sudah berjalan. Sebanyak 1.400 peserta ikut serta, terdiri dari:

  • 400 peserta offline

  • 1.000 peserta online

Mereka berasal dari berbagai latar belakang: instruktur pemerintah dan swasta, tim humas/media sosial Kemnaker, calon kreator, affiliator, seller, pelaku UMKM, hingga pencari kerja.

Materi pelatihannya sangat praktis, yaitu:

  1. Pelatihan TikTok Live Streaming Host

  2. Pelatihan Content Commerce Talent Development

Yang menarik, program ini juga menyiapkan para instruktur untuk menjadi pelatih. Mereka mengikuti paket training of trainers (ToT). Nantinya, mereka akan mengajarkan lagi di balai-balai pelatihan.

“Target kami ke depan, program ini bisa melahirkan 100.000 alumni pelatihan dalam setahun. Tujuan akhirnya adalah penyerapan tenaga kerja dan menumbuhkan semangat kewirausahaan di seluruh Indonesia,” kata Yassierli.

Pendekatannya pun hands-on dan learning by doing. Peserta tidak hanya belajar teori, tapi langsung praktik bikin konten, strategi promosi, hingga pendekatan penjualan digital.

Menaker juga menyampaikan terima kasih kepada TikTok. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, platform digital, dan masyarakat harus terus diperkuat.

Baca juga: Cisco Hadirkan Konsep Keamanan Revolusioner untuk Tenaga Kerja AI

“Indonesia tidak hanya menjadi pasar digital yang besar, tetapi juga memiliki tenaga kerja lokal yang unggul, kreatif, dan mampu bersaing,” pesannya.

Senada dengan Menaker, Hilmi Adrianto, Head of Public Policy & Government Relations TikTok Indonesia, mengatakan bahwa peluang digital memang terbuka lebar. Tapi akses terhadap keterampilan masih jadi kendala.

“Melalui program ini, TikTok berkomitmen memberikan dukungan konkret, mulai dari pelatihan praktis hingga pengembangan kurikulum. TikTok adalah platform yang inklusif, tempat siapa pun dari latar belakang apa pun punya kesempatan yang sama untuk berkembang,” ujar Hilmi.