Krisis Chip Global: Kenapa Baterai Awet dan Durability Jadi Standar Baru Pilih Smartphone?

News|September 4, 2026|
Krisis Chip Global: Kenapa Baterai Awet dan Durability Jadi Standar Baru Pilih Smartphone?

Trendtech, Jakarta – Seiring kenaikan harga memori global yang mengerek harga smartphone, konsumen disarankan mulai memprioritaskan ponsel dengan daya tahan baterai kuat dan ketahanan tinggi. Utamanya perangkat yang bisa bertahan lebih lama dan memberi nilai jangka panjang yang lebih baik.

Harga smartphone naik sepanjang 2026 karena kelangkaan chip memori global. Penyebabnya bukan gangguan produksi biasa: produsen memori mengalihkan lini DRAM dan NAND mereka ke chip untuk pusat data kecerdasan buatan, yang marginnya jauh lebih besar.

Kenaikan biaya itu membuat produsen ponsel menyesuaikan spesifikasi agar harga tetap masuk akal bagi pasar. Akibatnya, konsumen kini perlu cara baru menilai sebuah ponsel, bukan lagi dari angka RAM, melainkan dari seberapa lama perangkat itu bisa diandalkan.

Imbauan bagi Calon Pembeli: Utamakan Daya Tahan Baterai dan Ketahanan

Menunda pembelian sambil menunggu harga turun bukan langkah yang realistis. Sebab, lembaga riset memperkirakan harga memori tidak akan kembali ke tingkat 2025, bahkan setelah pasokan normal. Alasannya:

– Pabrik memori baru diperkirakan baru berproduksi penuh pada 2027.

– IDC memproyeksikan tekanan harga memori berlanjut setidaknya hingga 2028.

– Sejumlah eksekutif produsen memori memperingatkan ketimpangan pasokan bisa bertahan hingga melewati 2030.

Karena tekanan ini berlangsung bertahun-tahun, yang lebih masuk akal adalah mengubah cara memilih ponsel:

– Cek berapa lama produsen menjanjikan pembaruan sistem dan keamanan, bukan berapa besar RAM-nya.

– Lihat bagaimana ponsel bekerja setelah setahun pemakaian, bukan seberapa baru chipset-nya.

– Nilai daya tahan baterai dalam pemakaian sehari-hari, bukan angka kapasitas di brosur.

– Perhatikan ketahanan fisik dan ketersediaan suku cadang, karena keduanya menentukan berapa lama ponsel layak dipakai.

Struktur biaya baru ini bersifat permanen. Senior Research Director for Worldwide Consumer Devices Nabila Popal menegaskan bahwa ekspektasi konsumen maupun strategi produsen perlu ikut menyesuaikan.

“Era smartphone ultramurah telah berakhir,” ujar Popal.

Artinya, hanya vendor yang mampu menyesuaikan strategi dengan struktur biaya baru dan menjaga permintaan di tingkat harga lebih tinggi yang akan bertahan.

Harga Naik, Spesifikasi Ikut Menyesuaikan

Ketika biaya komponen melonjak, produsen smartphone punya dua pilihan: menaikkan harga atau menyesuaikan konfigurasi. Sepanjang 2026, keduanya terjadi bersamaan. Prioritas bergeser dari menambah kapasitas setiap tahun menjadi memilih spesifikasi yang paling relevan untuk pemakaian harian.

– Harga jual rata-rata smartphone global diproyeksikan naik 27,6% pada 2026 menjadi rekor USD581 (sekitar Rp10,3 juta), naik dari proyeksi awal USD523 pada Februari 2026 (data IDC).

– Sejumlah flagship 2026 tetap di RAM 12GB dan tidak naik ke 16GB, sehingga anggaran rekayasa bisa dialihkan ke aspek lain di luar kapasitas (data IDC).

– Di kelas menengah, sejumlah produsen menyesuaikan konfigurasi RAM dan penyimpanan sambil mempertahankan nama model yang sama (data Counterpoint Research).

– Sebagian model dasar menyesuaikan memori ke 4GB DRAM agar harganya tetap terjangkau pembeli di segmen itu (data Counterpoint Research).

Penyesuaian tidak berhenti di memori. Shenghao Bai, Senior Analyst, Counterpoint Research menyebut perubahan juga menyentuh komponen lain. “Pada sejumlah model, kami melihat penurunan komponen seperti modul kamera,” ujarnya. Bai menyebut hal serupa terjadi pada layar, komponen audio, dan konfigurasi memori.

Hal ini menunjukkan bahwa cara lama menjual produk lewat perbandingan spesifikasi sudah kehilangan daya tarik.

Dua praktik menjadi penting: mengumumkan setiap perubahan konfigurasi secara terbuka, dan mengandalkan optimisasi perangkat lunak untuk menjaga kualitas pengalaman pengguna.

Memori untuk Smartphone Kalah Bersaing dengan Pusat Data AI

Produsen memori memindahkan kapasitas produksi DRAM dan NAND ke chip memori pita lebar tinggi (HBM) untuk pusat data kecerdasan buatan. Margin di sana jauh lebih menarik, sehingga pasokan untuk elektronik konsumen menyusut.

– Chip memori untuk pusat data AI kini menyerap sekitar 70% produksi memori global, dengan margin 3-5 kali lebih tinggi dibanding memori konsumen.

– Pasokan DRAM 2026 hanya tumbuh 16% dan NAND 17%, di bawah rentang 20%-30%, sementara permintaan terus naik (data IDC).

– Pada Q1 2026, harga DRAM global naik lebih dari 50% dibanding kuartal sebelumnya. Sedangkan NAND Flash melonjak lebih dari 90% (data Counterpoint Memory Price Tracker).

– Pada Q2 2026, biaya memori tercatat naik hampir 300% dibanding tahun sebelumnya (data IDC).

Francisco Jeronimo, Vice President for Worldwide Client Devices, IDC, menggambarkan hal ini sebagai guncangan sedahsyat tsunami yang berasal dari rantai pasok memori.

“Kelangkaan memori, yang secara luas dianggap sebagai gangguan rantai pasok yang belum pernah terjadi sebelumnya,” tambah Ryan Reith, Group Vice President for Worldwide Client Devices, IDC.

Ia menilai kondisi ini akan menekan pasar sepanjang 2026, dan lama tidaknya kelangkaan itulah yang menentukan seberapa dalam pasar smartphone turun.

Seberapa cepat situasi memburuk terlihat dari revisi proyeksi. Di awal 2026, penurunan pengiriman global diperkirakan hanya 1%-5%. Pada Juni, IDC merevisinya menjadi 13,9%. Proyeksi terkini menempatkannya di 16,7%, ini penurunan tahunan paling tajam dalam sejarah industri smartphone.

Segmen Rp1,8 Juta–Rp3,5 Juta Paling Terpukul

Beban kenaikan biaya tidak dirasakan merata. Memori menyumbang 15%-20% dari total biaya komponen (BOM) ponsel kelas menengah, tapi hanya 10%-15% pada flagship. Artinya, makin murah sebuah ponsel, makin besar porsi biayanya yang terpukul kenaikan harga memori.

– Biaya komponen ponsel di bawah USD200 (sekitar Rp3,5 juta) naik 20%-30% sejak awal 2026 (data Counterpoint Research).

– Pada Q2 2026, memori menyumbang lebih dari 65% BOM di segmen entry-level — membuat bisnis di rentang harga ini sulit dipertahankan (data IDC).

– Segmen di bawah USD100 (sekitar Rp1,8 juta), yang mengapalkan sekitar 173 juta unit pada 2025, anjlok hampir 60% pada Q2 2026 (data IDC).

– Di sejumlah pasar berkembang, harga ponsel naik hingga 40%-50% (data IDC).

Pasar Indonesia Paling Terdampak

Volume penjualan di Indonesia masih ditopang segmen entry-level dan kelas menengah. Karena itu, pasar domestik lebih rentan dibanding pasar yang didominasi ponsel premium.

– Pengiriman smartphone di Indonesia turun 9% secara tahunan pada Q1 2026, karena konsumen menunda ganti ponsel (data Counterpoint Indonesia Smartphone Tracker).

– Kenaikan harga di pasar Indonesia berkisar 7% hingga 45%, menyentuh model lama maupun produk baru (data Counterpoint Research).

– Segmen entry-level di bawah USD150 (sekitar Rp2,7 juta) turun 19% secara tahunan (data Counterpoint Research).

– Sebaliknya, segmen premium di atas USD600 (sekitar Rp10,6 juta) mencetak rekor kontribusi tertinggi 8,3% dari total pengiriman, tumbuh 30% secara tahunan (data Counterpoint Research).

– Sebagian konsumen beralih ke ponsel bekas dan refurbished karena menunda pembelian perangkat baru (data Counterpoint Research).

Yang menarik, penurunan ini terjadi justru saat indikator ekonomi Indonesia membaik. Artinya, pemicunya adalah biaya komponen, bukan semata daya beli.

“Segmen entry-level paling terpukul. Konsumen di segmen ini memilih menunda pembelian atau beralih ke ponsel bekas,” ungkap Shilpi Jain, Senior Analyst, Counterpoint Research dalam riset Indonesia Smartphone Tracker Q1 2026.

Tiga Ukuran Baru Memilih Smartphone: Baterai, Konsistensi, dan Umur Pakai

Ketika daftar spesifikasi berhenti bertambah, penilaian sebuah ponsel kembali ke hal paling mendasar: seberapa andal ia dipakai sehari-hari. Ada tiga ukuran yang bisa dipakai konsumen.

– Daya tahan baterai: sanggup bertahan satu hari penuh, dan kapasitasnya masih layak setelah dua sampai tiga tahun.

– Konsistensi performa: tetap responsif saat berpindah aplikasi, stabil dalam pemakaian rutin, dan tidak melambat drastis setelah setahun.

– Umur pakai: ketahanan fisik, ketersediaan suku cadang, dan berapa lama ponsel menerima pembaruan sistem serta keamanan.

Go to Top