China Memberi Peringatan Pembalasan Setelah Penindakan Terhadap Robot AS

News|July 31, 2026|
China Memberi Peringatan Pembalasan Setelah Penindakan Terhadap Robot AS

Trendtech, Jakarta – Perang teknologi antara Amerika Serikat dan China makin panas aja, nih! Kali ini giliran sektor robot canggih dan AI yang kena imbas ketegangan dua negara adidaya tersebut.

Semua bermula saat Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) resmi memasukkan perangkat robot canggih buatan luar negeri—termasuk robot humanoid—ke daftar pembatasan impor baru. Alasan utamanya? Isu keamanan nasional dan potensi risiko keamanan siber.

Meski FCC nggak menyebut nama negara secara spesifik, langkah ini jelas bikin pemerintah China berang. Kementerian Perdagangan China langsung mendesak Washington buat nyabut aturan pembatasan robot humanoid China AS ini secepatnya.

Pihak Beijing menegaskan bahwa kebijakan sepihak dari FCC ini sangat merusak stabilitas ekonomi dan hubungan perdagangan bilateral. Nggak cuma gertak sambal, China mengancam bakal mengambil tindakan balasan keras kalau AS kekeh nggak mau membatalkan keputusan tersebut.

Baca juga: Robot Humanoid Chery Ikut Kerja di Pabrik Baru Afrika Selatan, Masa Depan Saling Collab Bareng Manusia Makin Dekat!

Momen memanasnya perselisihan robot humanoid China-AS ini terbilang cukup krusial. Pasalnya, isu ini mencuat tepat menjelang rencana pertemuan hangat antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan pada September mendatang.

Dampak kebijakan baru AS ini juga langsung bikin ketar-ketir para pelaku industri robotika di Negeri Tirai Bambu. Menurut Marc Einstein, Direktur Riset di Counterpoint Research, ini adalah sinyal bahaya buat produsen robot humanoid China yang lagi bersiap melantai di bursa saham alias IPO.

Lebih lanjut, Einstein menyebut China punya dua “kartu AS” buat membalas perlakuan Amerika. Pertama, makin memperketat ekspor logam tanah jarang (rare earths) ke perusahaan AS. Kedua, membatasi akses pasar domestik China bagi raksasa teknologi AS kayak Tesla dan NVIDIA.

Padahal, dominasi China di ranah robotika global tergolong sangat masif. Data Counterpoint Research mencatat tiga produsen asal China—Agibot, Unitree, dan UBTech—berhasil menguasai pangsa pasar instalasi robot humanoid terbesar di dunia tahun lalu, melampaui Optimus milik Tesla yang ada di posisi kelima.

Baca juga: COMPUTEX 2026 Sukses Besar, Era Baru AI Fisik dan Robotika Resmi Dimulai!

Efek domino dari pengumuman FCC ini bahkan langsung terasa di lantai bursa. Saham UBTech yang terdaftar di bursa Hong Kong sempat anjlok lebih dari 6% di awal perdagangan, sebelum akhirnya perlahan membaik. Padahal, pemain lain kayak Unitree dan Agibot juga udah resmi ngajuin berkas IPO.

Menanggapi potensi badai perang dagang yang kian meluas, Robostore selaku distributor robot humanoid China di Amerika Utara mulai memasang badan. CEO Robostore, Teddy Haggerty, menyatakan pihaknya sudah mulai memperluas basis operasi di AS sebagai bentuk antisipasi.

Makin memperkeruh suasana, Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga melemparkan ancaman sanksi baru terkait dugaan pencurian model AI oleh China. Di sisi lain, Donald Trump sempat memberi sinyal kalau AS bakal mengambil pendekatan yang lebih hati-hati terkait kontrol ekspor AI demi menjaga dominasi teknologinya.

Go to Top